Ibrahim Risjad, pengusaha papan atas ini telah tutup usia. Kamis malam (16/4) pukul 21.36 di Singapura, pria ini wafat pada usia 78 tahun karena sakit. Banyak tak menyangka dibalik kesuksesannya, ternyata Ibrahim Risjad memiliki darah Aceh yang kental dalam dirinya. Dilahirkan di Reubee, Kecamatan Delima, Pidie 3 Maret 1934, Ibrahim Risjad sudah mulai terjun di dunia bisnis pada usia tergolong masih muda. Usahanya dimulai selepas lulus SMA di Medan pada 1954 dengan merantau kemedan sambil berkerja di restoran h.ismail bin Adam lueng dama Bambong luengdama (kolam kaca dan dia tinggal di kmpg Angrong medan "magang" di sebuah perusahaan swasta selama dua tahun dan dilanjutkan bekerja di beberapa tempat lainnya. Berbekal pengalaman yang sudah ada, Ibrahim Risjad bergabung di CV Waringin dan diangkat menjadi Direktur. Lima tahun kemudian dengan patungan bersama Liem Sioe Liong dan Sudwikatmono, CV Waringin berubah menjadi sebuah perseroan terbatas, dan memilih PT Waringin Kencana sebagai nama baru. Perusahaan ini bergerak di bidang ekspor impor komoditi hasil bumi, dan Risjad dipercayakan menjadi Direktur II. Talenta dan jaringan bisnisnya yang kian hebat membuat dirinya bersama dengan Sudwikatmono dan Liem Sioe Liong dan Djuhar Susanto (The Gang Four) mendirikan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk. Pada tahun 1973 dia menjadi salah satu direktur di perusahaan semen itu yang hingga akhir hanyatnya menjabat sebagai komisaris. Sukses tersebut berlanjut, The Gang Four kembali membuat perusahaan yaitu PT Bogasari. Perusahaan tepung terigu ini pun tergolong sukses dan kini lebih dikenal dengan holding-nya PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Tak hanya itu, Ibrahim pun ikut membidani dan menjadi pemilik perusahaan PT Tripolita dan Chandra Asri bersama Prayogo Pagesntu dan Bambang Trihatmodjo. Namun sayang kedua perusahaan tersebut terlilit kredit macet dan akhirnya kedua perusahaan itu disita oleh BPPN. Selain itu Ibrahim pun sempat menjabat sebagai presiden direktur PT Sarida Perkasa merangkap presiden direktur PT Branta Mulia sejak 1979. Pada 1986, menjabat direktur utama PT Semen Madura. Tahun 1989, Ibrahim Risjad mendirikan Risjadson, kelompok bisnis yang kemudian menggurita di berbagai bidang usaha. Tangan dingannya berhasil menumbuhkan Risjadson sebagai induk dari 30 lebih perusahaan yang bergerak di berbagai sektor usaha. Ada anak perusahaannya yang bergerak di perdagangan internasional (PT Multi Continental), perbankan (Bank Windu Kentjana dan Risjad Salim Bank), real estate (antara lain Park Royal Apartment), industri kosmetik (PT Ayu Agung), industri kayu (PT Abdikayu Indoraya), dan pabrik kertas (PT Kimsari Paper Indonesia). Di Aceh, Ibrahim punya sejumlah perusahaan perkebunan. Sekedar menyebut diantaranya Takengon Pulp and Paper, dan perkebunan sawit PT Satya Agung di Aceh Utara. Ia juga ikut membidani lahirnya Universitas Jabal Gaffur di Pidie. Pada 2007, Ibrahim Risjad lewat perusahaannya Risjadson menempati posisi ke-110 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$ 90 juta. Pada 2011, Globe Asia menempatkannya pada posisi 57 dengan kekayaaan melonjak menjadi US$469 juta. Kini pundi-pundi keuangan Ibrahim dikelolanya melalui First Pacific Company Ltd, perusahaan manajemen investasi yang bermarkas di Hongkong. Kemarin, menjelang tengah malam, Ibrahim pergi dengan meninggalkan pundi-pundinya. Rencananya, ia dimakamkan hari ini tepat saat azan ashar di San Diego Hill, pekuburan mewah di Karawang Barat, Jawa Barat.
IBRAHIM RISJAD MENINGAL DUNIA
Jumat, 18 Agustus 2017
IBRAHIM RISJAD
Ibrahim Risjad, pengusaha papan atas ini telah tutup usia. Kamis malam (16/4) pukul 21.36 di Singapura, pria ini wafat pada usia 78 tahun karena sakit. Banyak tak menyangka dibalik kesuksesannya, ternyata Ibrahim Risjad memiliki darah Aceh yang kental dalam dirinya. Dilahirkan di Reubee, Kecamatan Delima, Pidie 3 Maret 1934, Ibrahim Risjad sudah mulai terjun di dunia bisnis pada usia tergolong masih muda. Usahanya dimulai selepas lulus SMA di Medan pada 1954 dengan merantau kemedan sambil berkerja di restoran h.ismail bin Adam lueng dama Bambong luengdama (kolam kaca dan dia tinggal di kmpg Angrong medan "magang" di sebuah perusahaan swasta selama dua tahun dan dilanjutkan bekerja di beberapa tempat lainnya. Berbekal pengalaman yang sudah ada, Ibrahim Risjad bergabung di CV Waringin dan diangkat menjadi Direktur. Lima tahun kemudian dengan patungan bersama Liem Sioe Liong dan Sudwikatmono, CV Waringin berubah menjadi sebuah perseroan terbatas, dan memilih PT Waringin Kencana sebagai nama baru. Perusahaan ini bergerak di bidang ekspor impor komoditi hasil bumi, dan Risjad dipercayakan menjadi Direktur II. Talenta dan jaringan bisnisnya yang kian hebat membuat dirinya bersama dengan Sudwikatmono dan Liem Sioe Liong dan Djuhar Susanto (The Gang Four) mendirikan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk. Pada tahun 1973 dia menjadi salah satu direktur di perusahaan semen itu yang hingga akhir hanyatnya menjabat sebagai komisaris. Sukses tersebut berlanjut, The Gang Four kembali membuat perusahaan yaitu PT Bogasari. Perusahaan tepung terigu ini pun tergolong sukses dan kini lebih dikenal dengan holding-nya PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Tak hanya itu, Ibrahim pun ikut membidani dan menjadi pemilik perusahaan PT Tripolita dan Chandra Asri bersama Prayogo Pagesntu dan Bambang Trihatmodjo. Namun sayang kedua perusahaan tersebut terlilit kredit macet dan akhirnya kedua perusahaan itu disita oleh BPPN. Selain itu Ibrahim pun sempat menjabat sebagai presiden direktur PT Sarida Perkasa merangkap presiden direktur PT Branta Mulia sejak 1979. Pada 1986, menjabat direktur utama PT Semen Madura. Tahun 1989, Ibrahim Risjad mendirikan Risjadson, kelompok bisnis yang kemudian menggurita di berbagai bidang usaha. Tangan dingannya berhasil menumbuhkan Risjadson sebagai induk dari 30 lebih perusahaan yang bergerak di berbagai sektor usaha. Ada anak perusahaannya yang bergerak di perdagangan internasional (PT Multi Continental), perbankan (Bank Windu Kentjana dan Risjad Salim Bank), real estate (antara lain Park Royal Apartment), industri kosmetik (PT Ayu Agung), industri kayu (PT Abdikayu Indoraya), dan pabrik kertas (PT Kimsari Paper Indonesia). Di Aceh, Ibrahim punya sejumlah perusahaan perkebunan. Sekedar menyebut diantaranya Takengon Pulp and Paper, dan perkebunan sawit PT Satya Agung di Aceh Utara. Ia juga ikut membidani lahirnya Universitas Jabal Gaffur di Pidie. Pada 2007, Ibrahim Risjad lewat perusahaannya Risjadson menempati posisi ke-110 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$ 90 juta. Pada 2011, Globe Asia menempatkannya pada posisi 57 dengan kekayaaan melonjak menjadi US$469 juta. Kini pundi-pundi keuangan Ibrahim dikelolanya melalui First Pacific Company Ltd, perusahaan manajemen investasi yang bermarkas di Hongkong. Kemarin, menjelang tengah malam, Ibrahim pergi dengan meninggalkan pundi-pundinya. Rencananya, ia dimakamkan hari ini tepat saat azan ashar di San Diego Hill, pekuburan mewah di Karawang Barat, Jawa Barat.
Langganan:
Komentar (Atom)